Balatkop Bina 3.100 Pelaku UMKM dan Koperasi

TANDA PENGENAL: Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng Gayatri Indah Cahyani saat menyematkan tanda pengenal peserta pelatihan UMKM di Balatkop Srondol, Semarang, Senin (18/4). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)

Balai Latihan Koperasi dan UMKM (Balatkop) Srondol Semarang tahun ini akan membina secara bertahap sebanyak 3.100 pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan koperasi se-Jateng.

Mereka akan dilatih keterampilan dan manajemen usaha guna mengangkat produksi dan penghasilannya. Dari jumlah itu, 1.375 orang di antaranya akan dilatih bidang keterampilan, 1.700 orang manajemen dan administrasinya, serta sisanya 25 orang dibina UMKM.

“Jumlah penduduk di Jateng berdasarkan data 2013 ada 33,2 juta, calon pekerja dan pengangguran ternyata cukup banyak. Dilandasi pemikiran ini, Dinas Koperasi dan UMKM Jateng melalui Balatkop berniat memfasilitasi UMKM di Jateng, baik bersifat operasional maupun manajeman usahanya,” kata Kepala Balatkop Semarang Sugeng usai pelatihan keterampilan dan UMKM di aula kantornya, Senin (18/4). Pada tahap pertama, pelatihan tujuh hari ini diikuti 200 peserta dan dibuka Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng Gayatri Indah Cahyani.

Menurut Sugeng, dari jumlah 3.100 orang yang dibina Balatkop, 575 orang di antaranya akan dikonsentrasikan masyarakat di desa miskin dari empat kabupaten seperti halnya Kabupaten Brebes dan Banyumas. Pelatihan difokuskan menggarap potensi lokal, misalnya Kabupaten Banyumas makanan olahan pepaya. Peserta pelatihan tidak dibatasi usai, terpenting mereka merupakan golongan usia kerja dan ada yang berusia 40 dan 50 tahun.

Sementara itu, Gayatri meminta peserta untuk mengikuti pelatihan dengan baik. “Sebanyak 3.100 peserta yang dibina Balatkop ini akan jadi pionir. Setelah ikut pelatihan, harus ada perubahan, karena masyarakat seperti pelaku UMKM ini membantu menopang peningkatan perekonomian dan membantu membuka lapangan kerja,” ungkapnya. Pasar saat ini menginginkan adanya kualitas dalam satu produk. Karenanya, pelaku UMKM juga harus bisa memperhatikan kualitas supaya produknya bisa dicari konsumen.

Anggota Komisi B DPRD Jateng Nuniek Sri Yuningsih menilai motivasi juga salah satu faktor penting untuk bisa membakar semangat pelaku usaha. Keterampilan usaha tidak akan hidup tanpa ada semangat pantang menyerah. “Motivasi adalah ruhnya, sukses tidak mungkin diraih secara tiba-tiba tapi melalui proses,” katanya.

sumber: berita.suaramerdeka.com

Add a Comment