Bermodal Rp 600.000 Berinovasi dengan Hasil Pertanian

INOVASI ANGGOTA Himateta Hadirkan Inovasi Hasil Pertanian di sela-sela Bazar Milad Milad Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang ke-50 tahun. (medanbisnis/ledimunthe)

MedanBisnis – Medan. Banyak potensi hasil pertanian yang dapat diolah dan memberikan nilai tambah. Bahkan dengan memanfaatkan limbahnya, seperti dilakukan Himpunan Mahasiswa Teknologi hasil Pertanian (Himateta) Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU).Mereka menciptakan beragam inovasi yang belum lazim saat ini. Dengan bermodalkan Rp 600 ribu, mereka membuat beragam produk seperti, keripik daun sirih, nugget, selai kulit nanas dan kecap air kelapa.

Produk buatan anggota Himateta yang terdiri dari 20 an orang ini, diyakini memiliki pangsa pasar yang potensial. Hanya saja, sejauh ini produk tersebut, masih dipasarkan secara terbatas melalui event-event seperti pameran dan juga bazaar.

Seperti disela-sela acara Milad ke-50 Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), beragam produk olahan hasil pertanian ini ditampilkan. “Kita sebenarnya ada beberapa produk, hanya saja kemarin sudah habis,” ujar anggota Himateta. Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, Ginta Atmaja, Senin kemarin.

Untuk nugget, timpal M Afwan Fauzi anggota Himateta yang lain, mereka mengaku terinspirasi dari banyak usaha burger yang masih menggunakan daging. Oleh karenanya, mereka membuat inovasi nugget yang lebih sehat dan tanpa bahan pengawet. “Untuk nugget ini, kita menggunakan bahan baku yang mudah didapat seperti tempe, tahu atau jagung,” ujar Ginta yang diamini anggota Himateta lainnya.

Sementara untuk kecap yang bahan baku air kelapa, penelitiannya sudah lama dilakukan. Hanya saja produksinya masih tergantung event-event dan juga orderan.

“Kecap air kelapa dan selai kulit nanas ini sebenarnya sudah lama dimulai. Hanya saja untuk pemasarannya masih terbatas. Ke depan kita memiliki rencana akan memproduksinya secara massal,” ujar Fauzi.

Dia menyebutkan, untuk produk hasil olahan pertanian ini, mereka tidak menggunakan bahan pengawet. Melainkan hanya memanfaatkan rempah-rempah. Tingkat ketahanan produk ini juga bervariasi, mulai dari dua pekan hingga sebulan lamanya. Ini pun jika proses penyimpanan yang dilakukan benar.

Sementara untuk harga mereka mematok mulai Rp 5 ribu hingga Rp 8 ribu. “Kalau untuk nugget kita patok delapan ribu, sedangkan selai dan kecapnya lima ribu rupiah,” ujarnya.

Secara terpisah, dosen Teknologi Hasil Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, Muji Paramuji menyebutkan, beragam produk yang ditampilkan di bazaar tersebut sebagai upaya memperkenalkan kepada masyarakat luas produk-produk kearifan lokal.

Produk olahan hasil pertanian tersebut sambungnya juga telah melalui tahapan penelitian. Misalnya saja kecap air kelapa, ide pembuatannya sudah lama dilakukan. Dengan menampung air kelapa, bisa menghasilkan produk olahan. “Kelapa itu bisa dijadikan bermacam olahan. Airnya selain natadecoco juga bisa dibuat jadi kecap, santannya jadi minyak, ampasnya jadi pakan ternak,” ujarnya.

Air kelapa, terangnya, kaya akan kandungan mineral dan serat. Namun bila ingin mendapatkan protein, bisa diberikan campuran kacang kedelai. Dengan olahan tersebut, mereka mengajak masyarakat untuk kembali menggunakan bahan-bahan yang alami. “Dengan ini kita back to nature,” ujarnya seraya menambahkan, selama ini akan banyak produk olahan yang kehadirannya belum tentu sehat. Sama halnya dengan kulit nanas yang dimanfaatkan untuk pembuatan selai. Kulit nanas ini terangnya, sangat kaya akan anti oksidan. (ledi munthe)

Add a Comment