BRI Kembangkan Teknologi Digital Proteksi Pasar UMKM

BRI Kembangkan Teknologi Digital Proteksi Pasar UMKM

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) akan meluncurkan satelit BRIsat ke orbit pada 8 Juni 2016 waktu 20.30 UTC di Kourou, French Guiana, Amerika Serikat. Peluncuran satelit tersebut merupakan terobosan yang dilakukan bank pelat merah ini guna mengembangkan teknologi digital. Dengan hal itu, perseroan dapat memproteksi pasar UMKM yang selama ini menjadi core business.

Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengatakan, sebagai bank pelat merah ia ingin agar bank yang ia pimpin dapat memproteksi pasar yang selama ini mayoritas mereka garap. Hal itu, terutama berkaitan juga dengan kesiapan BRI menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di perbankan pada 2020.

Oleh sebab itu, melalui keberadaan BRIsat emiten berkode BBRI dapat lebih gencar memasuki wilayah Indonesia yang belum terlayani jasa perbankan dan menggarap nasabah lebih luas.

“Setelah satelit kami dapat efektif beroperasional, secara bertahap perseroan akan mengembangkan berbagai teknologi digital. Di samping itu, hal yang juga perlu diketahui perseroan melakukan ini sebagai upaya efisiensi,” ujar Asmawi di sela konferensi pers terkait BRIsat di Jakarta, Selasa (31/5).

Adapun, pelucuran satelit milik BRI akan menggunakan Roket Ariane 5 milik perusahaan Arianespace pada 8 Juni mendatang atau menjadi 9 Juni 2016 dini hari menurut waktu Indonesia. Selepas peluncuran, satelit itu akan membutuhkan beberapa waktu guna mencari slot orbit 150.5°BT. Oleh sebab itu, Asmawi memaparkan, BRISat diprediksi dapat beroperasional penuhpada 15 Agustus 2016. Sejalan dengan pengoperasian satelit, BRI akan memiliki 45 transponder.

Kemudian, pada kesempatan sama Direktur Keuangan dan Treasury BRI Haru Koesmahargyo mengungkapkan, selama ini dalam hal teknologi perseroan menyewa 23 transponder dari pihak lain dan biaya penyewaan mencapai sekitar Rp 500 miliar setiap tahun.

Sedangkan, beberapa waktu lalu biaya yang bank badan usaha milik negara (BUMN) ini kuncurkan untuk investasi pengadaan BRIsat hanya sebesar US$ 250 juta atau setara dengan sekitar Rp 3,75 triliun.

Adapun, satelit yang dimiliki BRI itu memiliki masa waktu orbit selama 15 tahun, dan dapat diperpanjang dua tahun sehingga menjadi 17 tahun. “Jadi kami dapat lebih efisien ke depan, karena biaya sewa transporder yang sebesar Rp 500 miliar mungkin dapat berkurang sebesar 40%,” papar Haru.

Hal itu, jelas Asmawi, akan berdampak terhadap rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang ditanggung BRI di kemudian hari. Namun, ia mengakui selama ini beban operasional yang terbesar di bank yang ia pimpinbersumber dari sumber daya manusia (SDM).

“Iya, karena dalam satu bulan biaya gaji SDM kami dapat mencapai sekitar Rp 1,3 triliun. Nanti pasca pengorbitan satelit, SDM perseroan yang selama ini bertugas di bagian operasional dapat dipindahkan ke bidang bisnis. Dengan begitu, kami dapat menguatkan kapasitas bisnis di teknologi maupun bisnis secara bersamaan,” tegas Asmawi.

sumber: www.beritasatu.com

Add a Comment