Hadapi Pasar MEA, Legalitas Produk UMKM Jadi Prioritas

Picture2

Pertumbuhan industri kerajinan tangan di Kota Surabaya selama dua tahun terakhir mampu mencapai Rp15 miliar atau tumbuh 10 persen. Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Surabaya, mengatakan sektor usaha mikro berbasis produk kreatif merupakan modal bagi pelaku usaha menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun ini. Selama kurun waktu berjalan dua tahun terakhir jumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan transaksi penjualan barang kerajinan melalui pameran maupun diluar pameran totalnya Rp 15 miliar.
Lebih lanjut dikatakan, produk kerajinan Surabaya telah melalui proses pengenalan dengan cara gelar pameran diluar maupun dalam kota melalui program roadshow mall to mall. Diantara munculnya  berbagai produk kerajinan dari pakaian, aksesoris hingga home decoration. Peluang bagi UKM untuk bisa mengembangkan usaha dan promosi jauh lebih berkembah dan meningkat, terutama UKM pemula.
Saat ini, Dekranasda memiliki anggota 290 UKM ditambah 980 kelompok wirausaha muda binaan Pemerintah Kota Surabaya. Setiap tahun, pemkot melakukan pelatihan-pelatihan kepada 14.000 wanita-wanita untuk dilatih sebagai pengusaha. “Pelatihan bisa berupa cara membuat kerajinan sekaligus bagaimana pemasaran langsung atau lewat online serta cara transaksi elektronik. Sebagian dari mereka (pengrajin,red) juga difasilitasi pemkot untuk belajar bahasa asing di rumah bahasa,” jelasnya, Senin (1/2).
Menurutnya, yang harus diperhatian adalah pelaku usaha segera mengecek legalitas produk yang dibuat mulai izin perdagangan, hak paten agar tidak diplagiat (ditiru) orang lain. “Dalam arus perdagangan MEA, hak paten sangat diperlukan. Ini yang harus dijaga, karena pemkot sudah ada alokasi pengurusan hak paten untuk membantu UKM,” tegasnya.
Sementara, Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Pemprov Jatim, Moh Zainal Arief mengatakan, MEA tidak bisa ditolak, sebab sebuah provinsi yang mempunyai pelaku UKM dalam jumlah banyak, Pemprov Jatim mengambil langkah agar pelaku UKM di Jatim tidak kalah bersaing. Ada dua hal penting menekuni produk wirausaha mandiri yakni menjaga kualitas produk dan pasar.
Lebih lanjut Arief mengatakan penguatan pasar dalam negeri, Indonesia mempunyai jumlah penduduk terbanyak di antara 10 negara ASEAN. Separuh penduduk ASEAN adalah penduduk Indonesia.  Produk UKM Jatim bisa menguasai pasar dalam negeri sudah sangat bagus, bisa menguasai sekitar 40% pasar. Sedangkan penguatan pasar dalam negeri itu di antaranya melalui 26 perwakilan kamar dagang Jatim di 26 provinsi di Indonesia. Perwakilan kamar dagang itu diharapkan bisa memasarkan produk UKM dari Jawa Timur.
“Saat ini tercatat 6,8 juta usaha mikro kecil menengah di Jatim. Usahanya antara lain di bidang pengolahan makanan, minuman dan usaha garmen,” pungkasnya.
sumber : http://www.beritametro.co.id/

Add a Comment