ICCC III Makassar dan Pengembangan UMKM Kreatif

Bahrul ulum Ilham, Konsultan PLUT KUMKM Sulsel

 

Kota Makassar menjadi tuan rumah Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) ke-3 pada tanggal 6-10 September 2017. Event yang digelar oleh Badan Ekonomi Kreatif dan Indonesia Creative Cities Network (ICCN) bekerja sama Pemkot Makassar tidak lepas dari kedudukan Makassar sebagai salah satu kota kreatif dan posisinya sebagai “living room” kawasan timur Indonesia.

ICCC ajang mempertemukan seluruh pelaku industri kreatif dan penggiat kota kreatif mulai komunitas, pelaku usaha, akademisi hingga, pemerintah yang akan bersinergi menuju makin tumbuh dan berkembangnya kota kreatif di Indonesia. Pengembangan kota kreatif merupakan salah satu strategi untuk untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Kota Kreatif berperan utuk mendukung ekosistem kondusif dalam pengembangan ekonomi kreatif yang dilakukan secara bersama-sama dan sinergi oleh lintas pemangku kepentingan.

Dalam Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif disebutkan bahwa bahwa pengembangan ekonomi kreatif adalah pengembangan kegiatan ekonomi yang berdasarkan kreativitas, ketrampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berperan penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Tercatat saat ini ada 58 juta unit usaha UMKM di Indonesia sampai akhir 2016 ini, dengan kontribusi terhadap PDB nasional  sebesar 58 persen. Bank Indonesia (BI) mencatat, potensi ekonomi kreatif dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap Produk Domestik Bruto mencapai Rp850 triliun per tahunnya, dan mampu menciptakan 15 juta tenaga kerja.

Dengan peran penting di atas maka UMKM harus terus didorong lebih berkembang, tangguh atau naik kelas melalui inovasi dan kreativitas agar bisa bersaing di kancah global.  Keunggulan bersaing berbasis inovasi dan kreativitas harus lebih diutamakan karena mempunyai daya tahan dan jangka waktu lebih panjang.

Inovasi yang dilakukan UMKM antara lain dengan memanfaatkan teknologi terkini untuk proses produksi, melakukan inovasi dalam bidang pelayanan/ jasa atau proses dengan membuat suatu yang baru  dengan cara berbeda berbeda dengan sebelumnya, Inovasi juga bisa dalam bidang pemasaran dengan menerapkan strategi bauran pemasaran yang inovatif (strategi produk, harga, promosi dan distribusi/place) serta berinovasi dalam desain produk dengan menerapkan desain yang unik.

Pengembangan ekonomi kreatif lebih didominasi hasil kreasi idea tau gagasan orisinal dan tidak terlalu membutuhkan banyak ruang maupun modal fisik. Dengan demikian faktor kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi sangat penting dalam pengembangan UKM berbasis kreatifitas. Pemerintah dituntut lebih mendorong, menata serta  membuat kebijakan agar industri kreatif yang didominasi  UMKM dapat bertumbuh lebih pesat dan berperan lebih optimal. Diperlukan  suatu perencanaan   terpadu   dan   menyeluruh   melalui   penyusunan   rencana   strategi pembangunan ekonomi kreatif secara   tepat  dan  akurat,  sehingga  mampu  memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perekonomian.

Berbagai kendala yang dihadapi UMKM di lapangan haru diselesaikan, seperti persyaratan administratif, persoalan perijinan, retribusi atau kewajiban lainnya yang dikeluarkan baik oleh pemerintah pusat dan daerah. Adakalanya berbagai regulasi  tumpang  tindih  atau  tidak  terkoordinasi,  sehingga  pada akhirnya membebani UMKM untuk memulai atau mengembangkan usahanya. Persoalan internal UMKM juga harus dibenahi terkait mental kewiausahaan yang masih rendah serta maanjemen usaha yang masih lemah.

Pengembangan UMKM kreatif tentu hanya sebagian kecil upaya dalam membangun kota kreatif. Karena pada hakekatnya kota kreatif bukan sekadar melahirkan produk kerajinan maupun industri kreatif,melainkan kota yang dibangun dengan berdasarkan pada sepuluh prinsip kota kreatif. Kota kreatif adalah kota yang memanusiakan manusianya, kota yang terbuka dan kota yang menghargai perbedaan serta nyaman dan aman untuk ditinggali.

Kota kreatif menuntut hadirnya kota sebagai wadah sekaligus pemicu kegiatan kreatif, bercirikan kota yang mampu menciptakan atmosfir kota yang inspiratif dengan mengedepankan peran partisipasi. Berbagai wadah dan ruang dihadirkan, apakah melalui event, komunitas atau tempat yang mampu memfasilitasi berbagai golongan maupun individu dapat bertemu, berinteraksi dan saling bertukar informasi dan ide mengenai keadaan kota mereka.

Pengembangan kota kreatif hedaknya mengoptimalkan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mensinergikan semua komponen atau kolaborasi multipihak. Model kolaborasi pengembangan kota kreatif setidaknya mengacu pada konsep PENTAHELIX yakni melibatkan lima pelaku utama meliputi A (Academician), B (Business), C (Community), G (Government) dan M (Media).

Akademisi terdiri dari unsur mahasiswa, dosen, peneliti dari berbagai perguruan tinggi. Sektor bisnis melibatkan pengusaha dan asosiasi pengusaha ataupun asosiasi profesi semua bidang. Masyarakat terdiri dari komunitas kreatif, media, lembaga donor, pengrajin, UMKM dan pengusaha mikro serta media lokal.

Perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan dan teknologi (center of exellent) memiliki posisi strategis karena mampu melahirkan inovasi di berbagai bidang. Dunia usaha menyampaikan/memenuhi kebutuhan-kebutuhan untuk mendukung kegiatan dunia usaha Masyarakat secara umum dan komunitas kreatif dalam lingkup kecil dapat memberikan usulan, masukan, dan koreksi terhadap hal-hal yang dibutuhkan dalam pengembangan ekonomi kreatif, serta berperan aktif dalam pelaksanaan pembangunan melalui usaha-usaha swadaya. Pemerintah, berfungsi sebagai fasilitator dan enabler kepada semua stakeholder yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengendalian kota kreatif. Dan media berperan untuk mensosialisasikan, hadir dengan wacana yang sehat untuk kepentingan publik, mencerahkan dan mencerdaskan.

Add a Comment