Jokowi: Saya Ingin UKM Naik Kelas

20160115_093234

Tingkat suku bunga kredit perbankan di Indonesia masih cukup tinggi, bahkan salah satu tertinggi di ASEAN.

Salah satunya adalah bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sebelumnya dipatok hingga 22% per tahun. Padahal, KUR disalurkan bagi pengusaha kelas menengah, namun bunga yang dipatok terlampau tinggi.

Tingginya bunga KUR ini membuat pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sulit bersaing karena mahalnya mencari pendanaan.

Sementara suku bunga kredit untuk korporasi yang notabene kelas menengah ke atas justru dipatok lebih rendah, hanya 11-12%. Hal ini dinilai tidak adil.

Untungnya, saat ini bunga KUR telah ditetapkan oleh pemerintah hanya sebesar 9% per tahun. Penurunan suku bunga KUR ini diharapkan dapat mendorong pelaku usaha UMKM bisa mengembangkan usahanya ke level yang lebih tinggi.

“Seperti KUR. Kita nggak mau, masak KUR dulu bunganya 23%. Yang kecil-kecil diberi bunga 22%-23%. Mikro yang di pasar, yang di desa, yang di kampung diberi bunga 22%, korporasi diberi bunga 11%, 12%, apa bener, apa adil?,” ujar Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuannya bersama para pimpinan sektor jasa keuangan di Istana Presiden, Jakarta, Jumat (15/1/2016).

Jokowi secara tegas mengungkapkan, suku bunga kredit perlu diturunkan terlebih bunga KUR agar para pelaku UMKM bisa lebih bersaing menghadapi ajang pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan pendanaan yang lebih murah, diharapkan pelaku UMKM bisa naik kelas.

“Tahun ini kita beri subsidi APBN Rp 10 triliun agar subsidi bunga KUR jatuh pada angka 9% dari 22%. Kita ingin yang kecil-kecil ini meloncat naik. Ini yang akan terus kita koneksikan agar kita tidak lupa di desa pada usaha mikro, di kampung, daerah, arahnya ke sana,” ucapnya.

Jokowi menyebutkan, mau tidak mau perbankan juga harus bisa bersaing menghadapi pasar bebas ASEAN. Tak hanya bank BUMN, namun juga bank swasta, BPD, dan BPR.

“Nanti mau tidak mau, perbankan juga bersaing. Ini era persaingan, orang akan menuju ke yang 9% mau tidak mau. Mau tidak mau ke depan industri jasa keuangan kita harus efisien. Entah yang BPR, BPD, bank swasta, bank BUMN, mau tidak mau harus menyiapkan diri menuju era kompetisi,” jelas dia.

Jokowi menambahkan, di era pasar bebas ASEAN ini, perbankan harus bersiap untuk bersaing degan perbankan asing yang kini sudah menawarkan suku bunga kredit lebih rendah.

“Industri keuangan, juga harus siap. Kalau negara lain bunga bank hanya 4%, 5%, 6%, kita juga harus nantinya seperti itu. Siap-siap perbankan. Entah jurusnya apa pasti akan saya cari. Entah dengan trigger subsidi,” ucap Jokowi.

sumber : www.finance.detik.com

Add a Comment