Kota Kreatif: Motor Gerak Penumbuhan Ekonomi Kreatif

“Ekonomi kreatif harus menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia”. Demikian bunyi arahan Presiden beberapa waktu lalu di Jakarta. Hal tersebut sejalan dengan Perpres No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 yang menyebutkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif sebagai kesempatan penciptaan manfaat ekonomi dari bonus demografi. Pengembangan wilayah nasional diarahkan untuk mengurangi kesenjangan antardaerah dan memajukan daerah menjadi daerah yang maju, mandiri, dan berdaya saing dengan mendorong percepatan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan menggali potensi dan keunggulan daerah.

Picture1

Target pembangunan ekonomi kreatif nasional 2015-2019 menyebutkan bahwa kontribusi yang diharapkan dari ekonomi kreatif terhadap PDB nasional sebesar 12,0%; menyerap tenaga kerja 13 juta orang; dan berkontribusi sebesar 10% terhadap ekspor. Untuk mewujudkan hal tersebut Strategi yang disiapkan pemerintah antara lain: Memperluas pasar produk kreatif Indonesia baik di pasar ekspor maupun pasar domestik; Memfasilitasi proses kreasi seperti pembangunan ruang kreatif, jaringan orang kreatif; Memfasilitasi usaha kreatif sepanjang rantai produksi dengan menyediakan akses ke sumber permodalan atau pasokan SDM produksi, dan akses ke pasar; dan Memfasilitasi penumbuhan usaha kreatif terutama bagi usaha pemula (Start up Business).

aaaaaaaaaaaaaaaaaa

Pengembangan ekonomi kreatif juga sejalan dengan Sustainable Development Goals, yakni Goal 8: Promote inclusive and sustainable economic growth, employment and decent work for all; dan Goal 11: Make cities inclusive, safe, resilient and sustainable

Apa dan Mengapa harus Kota Kreatif?

Akhir tahun lalu organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization- UNESCO) mengumumkan Kota Bandung sebagai salah satu dalam jaringan kota kreatif, UNESCO Creative Cities Network, menyusul kota Pekalongan yang telah diumumkan sebelumnya di tahun 2014 sebagai kota kreatif kategori kerajinan dan kesenian rakyat. Jaringan Kota Kreatif UNESCO merupakan potensi besar untuk menegaskan peran budaya sebagai pendukung pembangunan berkelanjutan.

Konsep kota kreatif mulai diperbincangkan secara terbuka dalam ajang The 3rd Asia Europe Art Camp 2005 dan Konferensi Artepolis 2006 yang diselenggarakan di Bandung. Dalam kurun waktu yang nyaris bersamaan terbentuk  Bandung Creative City Forum (BCCF) pada tahun 2007; Bali Creative Power serta Solo Creative City Network (SCCN) pada tahun 2008. Dibeberapa kota, penerapan kota kreatif terbukti menjadi salah satu daya pikat terhadap pariwisata serta penggerak perputaran ekonomi. Hal inilah yang memicu kreatifitas warga untuk mewujudkan kota yang menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Terdapat tujuh katagori yang dapat diikuti yaitu bidang Kerajinan dan Kesenian Rakyat, Desain, Film, Gastronomy, Sastra, Media dan Seni Musik. UNESCO Creative City Network diluncurkan tahun 2004, Jaringan yang terdiri atas 116 kota di seluruh dunia bertujuan mendorong kerjasama internasional antar kota yang berkomitmen berinvestasi pada kreativitas sebagai pendorong pembangunan perkotaan berkelanjutan, inklusi sosial dan budaya.

Tercatat kota yang masuk dalam Creative City Network untuk katagori kota selain Bandung adalah Singapura, Budapest, Kaunas di Lithuania, Detroit (AS), dan  Puebla di Meksiko. Sementara untuk katagori gastronomi, Belem (Brasil), Bergen (Norwegia), Burgos dan Denia di Spanyol, Ensenada (Meksiko), Gaziantep (Turki), Tucson (AS), Parma (Italia), Phuket (Thailand) dan kota Rasht di Iran. Sedangkan katagori musik adalah kota Adelaide di Australia , Idanha-a-Nova (Portugal) , Kingston (Jamaika), Kinshasa (Kongo) , Liverpool (Inggris), Medellin (Kolombia), Salvador (Brasil), Katowice (Polandia), Tongyeong (Korea) dan Varanasi di India.

Kota yang masuk dalam UNESCO Creative City Network katagori literatur adalah Tartu (Estonia), Barcelona (Spanyol), Baghdad (Irak) , Ljubljana (Slovenia), Lviv (Ukraine) , Montevideo (Uruguay) , Nottingham (Inggris ) Obidos (Portugal) dan Ulyanovsk di Rusia. Kota untuk katagori kerajinan dan kesenian rakyat adalah Al-Ahsa (Arab Saudi), Bamiyan (Afghanistan), Duran (Ekuador), Lubumbashi (Kongo), Isfahan (Iran), Jaipur (India) , San Cristobal de las Casas (Meksiko) dan kota Sasayama di Japan. Untuk katagori film yaitu Bitola ( Makedonia), Roma (Italia) , Santos di Brasil dan untuk katagori media art adalah kota Austin (AS)

Jaringan Kabupaten Kota Kreatif Indonesia

Dengan masuknya Kota Pekalongan dan Kota Bandung kedalam jaringan kota kreatif seluruh dunia yang diprakarsai UNESCO, tentu sebuah modal awal yang bagus. Apa yang sudah dicapai dua kota tersebut bisa jadi trigger bagi kabupaten kota lain. Agar terjadi akselerasi hadirnya kota-kota kreatif di Indonesia maka ada kebutuhan untuk membangun jejaring kota kreatif Indonesia.

Antar kota di Indonesia perlu saling berbagi pengalaman, ide-ide dan praktek-praktek terbaik untuk pengembangan budaya, sosial dan ekonomi; kerjasama industri kreatif dengan memastikan peran kota dan kabupaten di Indonesia sebagai pusat keunggulan dan kebutuhan untuk saling mendukung antar kota-kota di Indonesia; perumusan 10 prinsip Kota Kreatif Indonesia.

Upaya untuk merintis jejaring kota kreatif Indonesia mulai dibicarakan secara serius dalam lokakarya ekonomi kreatif pada 24 September 2014. Saat itu Bappeda Kota Surakarta bersama SCCN menyusun rencana aksi daerah yang merekomendasikan kegiatan pemetaan potensi ekonomi kreatif di Solo serta menjalin kerjasama dengan Kota Bandung untuk menginisiasi pembentukan jejaring kota kreatif Indonesia.

Akhir tahun lalu telah terbentuk Indonesia Creative Cities Network (ICCN) sebagai bagian dari program pengembangan industri kreatif dengan menghadirkan karya dan produk unggulan setiap kota di Indonesia untuk mempersiapkan diri dalam program Masyarakat Ekonomi ASEAN. Gagasan dan inisiatif untuk mengembangkan kota kreatif menekankan pada proses penciptaan, inovasi dan bakat individu.

10 Prinsip Kota Kreatif

Kota Bandung menjadi tempat bersejarah yang melahirkan 10 prinsip kota kreatif. Prinsip tersebut disepakati saat di forum Creative City Forum. 10 prinsip yang telah disepakati tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kota kreatif adalah kota yang welas asih.
  2. Kota kreatif adalah kota yang inklusif.
  3. Kota kreatif adalah kota yang melindungi hak asasi manusia.
  4. Kota kreatif adalah kota yang memuliakan kreativitas masyarakatnya.
  5. Kota kreatif adalah kota yang tumbuh bersama lingkungan yang lestari, yang hidup selaras dengan dinamika lingkungan dan alam sekitar.
  6. Kota kreatif adalah kota yang memelihara kearifan sejarah, membangun semangat pembaharuan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik untuk seluruh masyarakatnya.
  7. Kota kreatif adalah kota yang dikelola secara transparan, adil dan jujur, yang mengedepankan nilai-nilai gotong royong dan kolaborasi, serta membuka akses dan partisipasi masyarakat untuk terlibat membangun kotanya.
  8. Kota kreatif adalah kota yang dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
  9. Kota kreatif adalah kota yang memanfaatkan energi terbarukan.

Kota kreatif adalah kota yang mampu menyediakan fasilitas umum yang layak untuk masyarakat, termasuk fasilitas yang ramah bagi kelompok masyarakat rentan dan berkebutuhan khusus.

Untuk mengimplementasikan 10 prinsip kota kreatif tersebut maka setiap kota perlu memiliki Ruang Kreatif yang diirancang untuk membentuk iklim dan ekosistem ekonomi kreatif yang komprehensif, kondusif, partisipatif, dan inklusif sehingga dapat membentuk ruang yang menjadi pusat aktivitas dan interaksi bagi lintas pelaku ekonomi kreatif (pemerintah, pelaku usaha/industri, akademisi, dan komunitas/forum kreatif).

Cak SAMSUL

Ketua Umum ABDSI

Founder SCCF – Surabaya Creative City Forum

Add a Comment