MenTransformasi UMKM Naik Kelas

Indonesia pusat keanekaragaman hayati, betapa luasnya hutan tropis Indonesia ada 112 juta Ha, luasnya setelah negara Brazil, 1/3 luas Indonesia meliputi 1.3 persen permukaan bumi, tetapi di dalamnya terdapat 10 persen jenis tumbuhan berbunga di dunia, 12 persen jenis mamalia di dunia, 16 persen jenis reptil dan amfibia di dunia, 17 persen jenis unggas di dunia, ada lebih 25 persen jenia ikan di dunia.

Demikian disampaikan oleh Wakil Rektor 3 Universitas Negeri Surakarta (UNS) Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si di hadapan peserta Focus Group Discusion (FGD) UMKM Naik Kelas di Solo View Hotel, Kamis (5/10/2018).

Lanjut Darsono, sudah banyak produk yang produknya dibuat di Indonesia ini diakui oleh pemilik saham asing, sebagai penduduk Indonesia, kita jangan sampai bicara saja, atau menonton potensi Sumber Daya Alam yang ada, namun posisi yang potensial yang ada diharapkan bisa dimaksimalkan.

“Produk sawit di dunia ini terluas ada di Indonesia, namun produk oil terbesar ada di malasyia. Sedangkan kebun sawit pemilik paling banyak adalah orang malaysia. Posisi SDA Indonesia itu sebenarnya luas, besar dan bagus maka kelola potensi SDA dengan maksimal,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan, atas kebesaran yang besar ternyata sebagian adalah sektor usaha kecil menengah, ditahun 2010 data BPS menunjukkan jumlah UMKM ada 55.211 juta unit, ini artinya posisi UKM sangat diperhitungkan. Namun cara pandang yang tidak sama menyebabkan UKM tidak naik kelas.

” Masalah UMKM yakni terbatasnya kemampuan UMKM untuk mengakses permodalan, teknologi dan informasi pasar, manajemen dan organisasi sehingga kuncinya pertama melakukan sinergi antara UKM itu sendiri, kedua adalah pemberdayaan profesional, tidak charity atau RAB/TOT/Proposal,” imbunya lagi.

Dia memberikan resep untuk strategi UMKM Naik Kelas agar tangguh, menyerap tenaga kerja, pemerataan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka strategi pengembangan UKM yakni pertama dengan membangun lingkungan usaha yang kondusif baik aspek penegakan hukum, penyederhanaan sistem, penyederhanaan jumlah perijinan.

Kedua, penataan kelembagaan, investasi sumberdaya manusia, investasi di bidang teknologi terapan, industrialisasi pedesaan melalui fasilitasi pendampingan profesional.

BDSP masih mempunyai peran penting untuk melakukan pendampingan UMKM dengan catatan pendampingan secara profesional bukan berbasis proyek atau proposal apalagi pola charity atau sinter klas karena berakibat pada kesinambungan pendampingan hasilnya tidak bisa berdaya.

Add a Comment