Taiwan, Indonesia & Birokrat Entrepreneur

Arif Budisusilo

“Saya kira salah satu faktor kunci bagi keberhasilan Taiwan adalah pejabat pemerintah yang menggunakan bahasa yang sama saat menjelaskan (kepada pihak luar tentang arah kebijakan dan visi pemerintahan). Bagaimana menurut Anda?”

Kalimat itu adalah pertanyaan saya kepada Joseph S.C. Hua, sesaat setelah berdiskusi ihwal perkembangan negeri itu di kantornya, yang hanya sepelemparan batu dari Istana Kepresidenan Taiwan, di Taipei, Kamis (27/11).

Joseph S.C. Hua menjabat sebagai Kepala Urusan Pendidikan dan Budaya, Mainland Affairs Council, Taiwan. Tapi, saat menerima kami, enam pemimpin redaksi media Jakarta, yang diundang oleh pemerintah Taiwan berkunjung ke negeri itu, Joseph banyak berbicara mengenai bisnis dan investasi.

“Ya. Karena perhatian kami soal trade dan investment,” kata Joseph membenarkan pernyataan sekaligus pertanyaan saya, sembari berjabatan tangan yang terasa kuat dan hangat.

Ihwal “gaya komunikasi dan bahasa” sengaja saya tanyakan kepada Joseph, mengingat pada pertemuan sebelumnya dengan birokrat lainnya, Kao Shien-Quey, Deputy Minister National Development Council, ia juga menggunakan bahasa yang relatif sama.

“Taiwan adalah free economic island. Kami telah bertransformasi dari masyarakat agrikultur ke masyarakat industri. Kami terus melakukan pembukaan pasar dan pelonggaran regulasi,” kata Kao penuh semangat.

Cerita dua pejabat birokrasi di Taipei itu sengaja saya nukil, sekadar sebagai contoh. Meski mereka bukan top leader di masing-masing institusinya, tetapi menjalankan mandat yang sama dari pucuk pimpinan yang memiliki visi jelas, dan firm.

Ternyata konfirmasi Joseph soal ‘cara berbahasa’ itu memang benar. Saat bertemu dengan Paul Wang, Chief Secretary Bureau of Foreign Trade (BoFT), Kementerian Perekonomian Taiwan, ia juga berkomunikasi dengan ‘bahasa’ yang sama.

Taiwan concern dengan apa yang disebut diversifikasi ekspor dan investasi, serta reorientasi pengembangan kompetensi menuju knowledge based economy.

Dan, untuk digarisbawahi, penjelasan mereka standard. Seperti sudah punya template, tidak menurut versi pejabat bersangkutan, bahkan sudah di-set dalam bentuk presentasi video. Maka, apa yang keluar bukanlah hasil interpretasi, selera, apalagi opini masing-masing pejabat yang bicara itu.

Artinya, pesan yang disampaikan jelas, dan satu suara. Kalau sudah begini, rasanya tak perlu ada miskomunikasi antarinstansi, dan tidak perlu capai membuat ralat kalau terjadi salah bicara andaikan pejabat atau birokrat berbicara hal yang ternyata tidak paham atau bahkan tidak siap materi.

***

Biar lebih punya gambaran, bolehlah saya share di sini, profil Taiwan (Republic of China) hingga tahun lalu. Biar angka yang berbicara.

Bersumber dari data resmi yang dilansir BoFT, penduduk Taiwan yang berjumlah 23 juta jiwa, saat ini memiliki pendapatan per kapita US$20.000 per tahun.

Kue ekonomi atau GDP Taiwan tahun lalu mencapai US$490 miliar, yang terutama dipasok oleh aktivitas ekspor yang besar, dan investasi ke negara lain. Posisi cadangan devisa Taiwan juga tambun senilai US$422 miliar, terbesar keempat di dunia, dengan rasio 86,2% dari GDP.

Posisi devisa yang besar itu tak lepas dari porsi ekspor Taiwan yang terus bergeliat, yang mencapai US$305 miliar tahun 2013 silam, naik 120 kali dari nilai perdagangan pada tahun 1971.

Sebagian besar perdagangan Taiwan adalah dengan China (termasuk Hong Kong), dengan sekurangnya 40% ekspor Taiwan adalah ke China, begitu pula investasinya. Sedikitnya 70% investasi langsung Taiwan diarahkan ke China, berkat “bahasa yang sama, dan lebih memahami pasar China.”

Bahkan, data yang diungkap menyebutkan 20 besar perusahaan eksporter di China daratan adalah perusahaan dari Taiwan. Karena itu, menurut Joseph Hua, “foreign trade is our live blood.”

Sejalan dengan risiko pasar global termasuk China, telah memaksa para pejabat di Taipei untuk berfikir keras “tidak menaruh telur di satu keranjang”. Intinya, mereka berfikir untuk diversifikasi pasar.

Menurut Kao Shien-Quey, salah satu pendorongnya adalah upah buruh di China yang saat ini melonjak 3 kali lipat dibandingkan dengan beberapa dekade silam. Asia Tenggara menjadi salah satu pilihan, mengingat perusahaan Taiwan memiliki rantai pasok komprehensif dengan negara-negara di Asia Tenggara, terutama dengan Thailand, Vietnam dan Indonesia.

***

Spirit entrepreneurship dan orientasi ‘bisnis’ para birokrat Taiwan juga memaksa mereka untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian ke depan. Perekonomian Taiwan sesungguhnya berawal dari bisnis bahan mentah atau raw material, lantas terjadi apa yang disebut sebagai silent revolution atau “revolusi senyap”, yang secara radikal menciptakan nilai tambah dalam waktu yang cepat.

Menurut Kao, resep maju Taiwan dimulai dengan reformasi agraria (land reform) pada tahun 1950-an, yang mendongkrak produktivitas petani karena kepemilikan lahan memenuhi dan melampaui skala ekonomis.

Hasil selanjutnya, tulang punggung ekonomi Taiwan bergeser dan bergerak dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri meskipun masih berbasis padat karya hingga akhir 1970-an.

Pada awal 1980-an, tulang punggung ekonomi Taiwan kembali bergeser dari industri padat karya (labor intensive) menuju hi-tech dan technology intensive. Ini dibantu dengan upaya menarik talenta yang belajar dari Amerika Serikat. Tak lupa pula, saat itu mulai dikembangkan industri berbasis metal dan petrochemical.

Lalu pada tahun 2008/2009, Taiwan mengembangkan transportasi publik dari utara ke selatan, serta konektivitas. Sistem kereta api cepat dari utara ke selatan berhasil dibangun. Waktu tempuh utara dari Taipei ke Kaohsiung di ujung selatan yang semula 4 jam, kini hanya 90 menit.

Sejak periode awal 2000-an, industri berbasis ICT (information, communication dan technology) menjadi tulang punggung perekonomian Taiwan. Sedikitnya 40% ekspor Taiwan berasal dari produk industri berbasis ICT hardware.

Produksi industri perangkat keras ICT Taiwan saat ini merajai dunia. Notebook, misalnya, pangsa pasar produk Taiwan di posisi nomor 1 dunia, dengan share 89%. Posisi nomor 1 juga ditempati produk motherboard, LCD monitor, server dan tablet device yang diperuntukkan bagi produk Apple dari Amerika Serikat.

Khusus untuk tablet device ini, pangsa pasar yang diproduksi Taiwan mencapai 47,9%. Karena itu, rasanya tak berlebihan kalau Kao mengatakan, “Apple rasanya tidak bisa sukses besar tanpa Taiwan.”

Meski begitu, pergeseran dan perubahan terus dilakukan. Menyadari perkembangan teknologi berbasis software, sukses Google, Facebook, Twitter dan industri berbasis apps, membuat pemerintah Taiwan bergerak maju.

Tahapan selanjutnya, Taiwan akan bergerak dari “efficiency driven economy” menuju “innovation driven economy”. Artinya, dari semula mengandalkan proses bisnis dan industri yang efisien, bergerak menuju ekonomi berbasis inovasi.

Karena itu pemerintah Taiwan serius mendukung bisnis start up, dengan menyediakan modal kerja, mendukung industrial cluster untuk anak muda dengan sewa yang murah, serta menyediakan profesional asistant. Selain itu, terdapat setidaknya 130 inkubator industri di seluruh Taiwan, tersebar dari utara ke selatan.

Di luar dukungan terhadap start-up, mengingat 95% perusahaan Taiwan yang terlibat dalam ekspor adalah perusahaan kecil dan menengah atau SME, dukungan riset terus diberikan. Saat ini, Taiwan memiliki 3 Science Park yang besar, memiliki lusinan industrial park dan industrial cluster, yang menitikberatkan pengembangan industri yang fokus.

Keberhasilan Taiwan tak lepas dari pengembangan modal manusia alias human capital. “Kuncinya karena kami menerapkan policy bagus pada saat yang tepat. Kami juga menggunakan sumberdaya manusia yang benar,” kata Kao.

Seperti dituturkan Joseph, Taiwan akan terus mengundang talenta terbaik untuk kembali pulang, guna menjaga skill, pengetahuan, sekaligus mengubah mindset atau cara berfikir.

Untuk itu, Taiwan akan investasi lebih banyak lagi pada pendidikan dan teknologi untuk menjaga keunggulan dan menuju ekonomi berbasis inovasi. “Manusia menjadi sumberdaya yang paling penting,” kata Kao.

Itu pula yang diakui Thomas L. Friedman, penulis buku The World is Flat. “Taiwan is a barren rock in a typhoon-laden sea with no natural resources to live off of, yet it has the 4th largest financial reserves in the world,” begitu tulis Friedman di The New York Times tahun lalu.

Bagi Friedman, ketimbang menggali bumi dan pertambangan, Taiwan ‘menambang’ talenta, energi dan kecerdasan 23 juta penduduknya. Dan, menurut Friedman, Taiwan beruntung, karena kebiasaan, budaya dan keahlian manusia adalah satu-satunya sumberdaya terbarukan di dunia saat ini.

 

***

 

Saya ingin menyimpulkan, kemajuan sebuah bangsa sangat tergantung kepada visi pemimpinnya.

Inilah, rasanya, momentum yang tepat bagi kita untuk berubah. Indonesia sudah memiliki Presiden yang bervisi entrepreneur. Dalam berbagai pertemuan internasional, Pak Jokowi, panggilan akrab Presiden Joko Widodo, telah mengubah pendekatan dengan menampilkan diri sebagai “Chief of Sales” yang menjual potensi Indonesia.

Pemucuk birokrasi Indonesia telah memberikan contoh, untuk mengelola negara layaknya entrepreneur. Maka, para birokrat di bawahnya pun selayaknya dapat pula bertindak selaku entrepreneur. Tidak lagi berjalan atas prinsip business as usual, seperti sedia kala, dan seadanya.

Inti dari kompetensi entrepreneurship adalah memecahkan masalah atau problem solver, bukan justru bagian dari masalah. Di dalamnya, terdapat unsur keberanian mengambil risiko. Dan karena itu berani berubah untuk mencoba pendekatan baru, dan memperbaikinya apabila ternyata tidak tepat apalagi salah. Trial and adjustment, begitu kata orang bijak.

Pemerintahan berjiwa entrepreneur akan menggerakkan rakyatnya untuk menjadi bagian penting dari masyarakat problem solver, bukan justru sebaliknya masyarakat yang gemar melahirkan kekacauan.

Itulah esensi spirit masyarakat entrepreneurship yang sesungguhnya. Jadi, bagaimana menurut Anda? (*)

Sumber : Bisnis Indonesia edisi 28/11/2014

Add a Comment