UKM di Jawa Barat akan Difasilitasi Mesin Pengemasan

salah-satu-hasil-produksi-ukm-ilustrasi-_120628013214-208

Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus berupaya mendukung gerak bisnis para pelaku Usaha Kecil dan menengah (UKM) dengan menyediakan fasilitas pembuatan kemasan. Karena, kemasan dinilai punya arti penting agar produk terlindungi dan tampil lebih menarik.

Menurut Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, pihaknya mesti melindungi para pelaku UKM terutama di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Salah satunya kelemahan pelaku adalah persoalan kemasan produk.

“Kalau diperlukan, kami akan beli mesin pembuat kemasan, sekitar 1-2 unit,” ujar Heryawan yang akrab disapa Aher kepada wartawan di Gedung Sate, Selasa (26/1).

Aher mengaku telah memerintahkan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk menyediakan fasilitas mesin pengemasan bagi pelaku UKM. Jika anggaran tidak memungkinkan di APBD murni 2016, maka akan dialokasikan di APBD Perubahan tahun ini.

“Kalau mesinnya masih kurang kita akan minta bantuan dari CSR perusahaan,” katanya.

Menurut Aher, kemasan menjadi salah satu kunci agar produk UKM untuk menghadapi pasar bebas di Asia Tenggara. Kemasan merupakan modal awal pelaku untuk dapat bersaing dengan produk dari luar negeri yang akan membanjiri pasar di dalam negeri. Indonesia khususnya Jabar dianggap sebagai pasar paling potensial oleh para pelaku asing karena punya penduduk yang sangat banyak.

“Pelaku kecil mesti dilindungi, beda kalau pelaku besar pasti sudah cara menghadapi MEA,” katanya.

Selain soal pengemasan, kata dia, Pemprov melalui dinas terkait juga akan membangun laboratorium untuk memeriksa kandungan gizi pada produk makanan dan minuman yang dibuat pelaku UKM.

Jika persoalan kemasan dan kandungan gizi teratasi, kata dia, pihaknya akan membantu pemasaran produk para pelaku dengan memanfaatkan jaringan di sektor pariwisata. Sektor ini dinilai paling efektif untuk mendorong angka penjualan mengingat tingkat kunjungan wisatawan ke Jabar yang cukup tinggi.

“Lebih bagus memasarkan di sektor pariwisata karena bisa menjual dengan harga tinggi, dan wisatawan jarang yang menawar harga saat membeli oleh-oleh,” katanya.

sumber : http://www.republika.co.id/

Add a Comment