Ulat Sutera Pemakan Daun Singkong Terus Dikembangkan

9ksutera2.wng.jpg

MEMBUAT BUNGA : Perempuan Desa Tambakmerang, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri dilatih membuat hiasan bunga berbahan kokon sutera oleh tim program Hi-Link Ditlitabmas Dikti UNIBA Surakarta, Sabtu (8/11). (suaramerdeka.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI, suaramerdeka.com – Budidaya ulat sutera pemakan daun singkong terus dikembangkan melalui program Hi-Link Direktorat Penelitian Pengabdian Masyarakat Dirjen Pendidikan Tinggi (Ditlitabmas Dikti) oleh Universitas Islam Batik (Uniba) Surakarta. Ulat sutera pemakan daun singkong itu dikembangkan di Kecamatan Girimarto dan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri.

Ketua tim pelaksana program Hi-Link Ditlitabmas Dikti UNIBA Surakarta Dra Trimurti MM mengatakan, tim beranggotakan sejumlah akademisi. Antara lain Dr Pramono Hadi SP MSi, Ir Tri Pamujiasih MP, Ir Dedy Rustiono MSi, dan Suparni SH MHum. “Program itu merupakan kerja sama antara Uniba Surakarta, Kagosi Yogyakarta, dan Pemkab Wonogiri,” katanya saat menutup program Hi-Link tahun pertama di balai Desa Tambakmerang, Kecamatan Girimarto, Sabtu (8/11).

Menurutnya, pengembangan ulat sutera jenis samia cynthia ricini, memiliki nilai yang sangat strategis untuk meningkatkan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Sebab, ulat itu tidak memakan daun murbei seperti ulat sutera biasa. Melainkan mampu memakan daun  singkong yang banyak terdapat di Wonogiri.

Program tersebut diusulkan berlangsung selama tiga tahun dan kini sudah berjalan pada tahun pertama. Program Hi-Link meliputi lima subsistem, yakni pembibitan, pemeliharaan, pemintalan, penenunan, dan pemasaran. “Konsep program Hi-Link Uniba Surakarta 2014 berfokus pengembangan inkubator bisnis ulat sutera samia cynthia ricini pemakan daun singkong melalui media pelatihan dengan dukungan penelitian yang berkelanjutan,” lanjutnya.

Dia menerangkan, produksi sutera alam dari Indonesia hanya 0,1% dari kebutuhan benang sutera dunia yang mencapai 118.000 ton pada 2008 lalu. Sementara, produksi kokon Indonesia hanya 250 ton/tahun. Padahal, kebutuhan kokon Indonesia mencapai 8.750 ton/tahun. Produksi benang sutera dunia masih didominasi negara China, India, Jepang, Korea, dan Brazil.

 

Add a Comment