UMKM Di Surabaya Didorong Berjejaring Agar Saling Menguatkan

5

Badan Koordinasi Pelayanan dan Penanaman Modal (BKPPM) Kota Surabaya menggiring pelaku usaha kecil mikro dan menengah untuk masuk dalam Konsolidasi Perencanaan Penanaman Modal Daerah (KPPMD) agar dapat bersinergi dengan berbagai pihak seperti pemerintah perbankan, hingga prinsipal.

Hal itu bertujuan untuk memperkuat kemitraan menuju terciptanya daya saing UMKM di pasar global. Selain itu, konsolidasi memudahkan proses identifikasi dan penyusunan program kegiatan terkait perencanaan penanaman modal.

Kepala Bidang Kerjasama dan Promosi BKPPM Surabaya Witarko Agung Samudra dari hasil konsolidasi tersebut diharapkan menjadi rumusan untuk perencanaan penanaman modal Kota Surabaya.

“Rumusan tersebut nantinya digunakan sebagai basis aktivitas penanaman saham di tahun 2016,” katanya di acara Konsolidasi Perencanaan Penanaman Modal Daerah di Surabaya, Kamis (26/11/2015).

Dia melanjutkan BKKPM secara aktif melakukan seleksi terhadap ribuan UMKM dan Koperasi di Kota Surabaya. Bagi UMKM terpilih akan dilakukan sinergi antara UMKM dan Koperasi dengan berbagai investor.

Adapun salah satu syaratnya yaitu UMKM harus memiliki daya saing secara global baik dari segi produk, modal hingga pemasaran.

Untuk memperkuat sektor UMKM, BKPPM melakukan berbagai upaya seperti pengembangan sentra-sentra ekonomi baru melalui pengembangan sektor strategis yang sesuai daya dukung lingkungan dan potensi unggulan.

“BKPPM telah memberikan fasilitas kemitraan dalam bentuk MoU antara UMKM terpilih dengan usaha skala provinsi dan nasional. Contohnya kemitraan UMKM dengan Asosiasi eksportir dan produsen handicraft Indonesia,” ujarnya.

Kepala Seksi Kemitraan dan Permodalan Dinas Koperasi (Dinkop) Surabaya Yusdi Ernawan berujar pihaknya turut memberikan fasilitas berupa temu usaha antara UMKM dan Koperasi dengan lembaga keuangan hingga BUMN.

Setiap tahunnya dilakukan temu usaha antara investor dengan sekitar 150 badan koperasi, hal tersebut dilakukan secara bertahap. Dinkop Surabaya mencatat dari 1.630 koperasi, terhitung 834 koperasi yang Aktif Rapat Akhir Tahunan (RAT) sedangkan sisanya yang tidak aktif aktif dilakukan pembinaan.

“Jika koperasi tersebut mati suri, maka dilakukan revitalisasi. Namun, untuk koperasi yang sudah tidak bisa direvitalisasi, sesuai UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian maka dilakukan pembubaran,” pungkasnya.

sumber : http://surabaya.bisnis.com

Add a Comment