UMKM Harus Melek Ekonomi Digital

Kejernihan-Air-Laut-Pantai-Gapang

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) diminta melek terhadap perkembangan ekonomi digital. Hal ini dikatakan Jasin Halim, CEO Kioson yang menjadi pembicara dalam Kuliah Umum PS Agroeteknologi di Medan, Senin (14/3).

“Kita ingin agar pelaku UMKM ini melek terhadap teknologi dan bisa menikmati ekonomi digital tersebut. Dengan ekonomi digital ini pendapatan mereka jauh lebih bertambah,” ujar Jasin.

Saat ini, Kioson telah menggandeng 3500 pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Mereka sendiri terdiri dari para pedagang toko klontong, pedagang pulsa dan lain sebagainya. Sementara untuk Sumatera Utara, Kioson telah menggandeng 300 pelaku UMKM.

“300 nya itu ada di Siantar. Untuk daerah lainnya kita belum melakukan kerjasama,” paparnya.

Kioson merupakan aplikasi dalam bentuk gadget. Dengan menggunakan aplikasi tersebut, para pelaku UMKM bisa lebih mudah menjual pulsa, membayar tagihan listrik, air, pembayaran BPJS dan lain sebagainya.

“Dari setiap hasil transaksi yang mereka lakukan dapat keuntungan. Dengan kata lain keuntungan yang didapat jauh lebih bertambah,” sebut Jasin.

Tahun ini, pihaknya menargetkan bisa bekerjasama dengan 4500 UMKM. Segmentasinya yakni pelaku UMKM yang berada di daerah terpencil.

“Jadi memang saat ini kita semua harus melek terhadap ekonomi digital. Sebut saja misalnya buka lapak, traveloka, toko bagus dan lainnya sejenis bisa berkembang karena memanfaatkan digital ekonomi ini. Buka lapak itu pemikirannya dari Medan. Sekarang bisa berkembang perusahaannya,” sebutnya.

Ke depan, para mahasiswa pertanian yang jadi peserta seminar tersebut bisa menjadi pemikir untuk merangkul petani menggunakan akses ekonomi digital.

Selain Jasin, hadir juga pemateri dalam seminar tersebut Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, DR Ir Ali Jamil, M.Sc. Ia memberikan materi soal upaya dalam pencapaian swasembada pangan dalam situasi pemanasan global.

“Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai swasembada ini yakni meningkatkan produktivitas dengan mengurangi permintaan pangan. Stop impor. Bisa membaca tantangan akibat perubahan iklim dan lainnya,” ujar Jamil.

sumber: news.analisadaily.com

Add a Comment